Ayub Gasali

AKU MEMBERONTAK , MAKA AKU ADA http://eksistensialis.blogspot.com/
Artikel : 3 Following : 9 Followers : 9

NIHILISME (AKTOR) LEMBAGA KEMAHASISWAAN

“Kebenaran pertama-tama adalah sesuatu yang baru”
(Alain Badiou)

Lembaga merupakan  wadah belajar ,berkreasi, dan berjuang bagi Mahasiswa . Yang jadi pertanyaan adalah segala nuansa aktivitas dalam lembaga kemahasiswaan semenjak dulu sampai sekarang tidak jauh berbeda dari sekarang dan tentu saja hal ini tak lepas dari peranan Mahasiswa sebagai aktor yang menghidupkan lembaga kemahasiswaan yang mengemudikan roda kelembagaan . Lembaga kemahasiswaan adalah sebuah kapal yang dikemudikan oleh aktor sebagai nahkoda dan awak kapal sehingga keberadaan lembaga sangat ditentukan oleh anggotanya . Sangat jarang Lembaga kemahasiswaan di zaman ini yang betul-betul murni sebagai wadah bagi para anggotnya , dan justru bisa menjadi boomerang bagi anggotanya sendiri bahkan sangat banyak Lembaga kemahasiswaan sudah sangat jauh menyimpang dari nilai ideal . Lembaga kemahasiswaan seperti sekarang ini seperti roda yang berputar , tidak ada aktivitas perubahan disana  yang ada hanya pengulangan-pengulangan dari periode sebelumnya , dari berbagai hal yang mewarnai dinamikanya sehingga seakan-akan seperti perputaran kosong tanpa makna dimana Doktrin-doktrin hegemonik yang sama berkuasa dari masa ke masa dan terus menerus berputar dan berulang sehingga menghasilkan nihilisme. Salah satu Penyebab utama dan yang paling sering ditemukan dalam menghasilkan Nihilisme itu adalah lembaga kemahasiswaan sebagai tempat suci dalam proses kelembagaan tercemar oleh factor-faktor eksternal seperti doktrin , ideology , dan budaya lain yang berada di luar dari kelembagaan itu sendiri . Sehingga lama kelamaan  Lembaga tersebut akan kehilangan identitas dan rohnya dimana doktrin , ideology , dan budaya tertentu akan menjebak lembaga dalam keadaan status Quo , yang berfungsi melanggengkan hal-hal tersebut sehingga tanpa perubahan dimana Lembaga akan menjadi menjadi alat dominasi bagi doktrin,ideology dan budaya tertentu yang dibawa oleh  Aktor  yang “memaksakan” berlangsungnya hal tersebut . Lembaga kemahasiswaan tidak lagi merdeka , dan anggotanyapun juga tidak merdeka .

Lembaga Kemahasiswaan terjebak oleh Nihilisme (Friedrich Nietzche - Also sprach Zarathustra (1885) ) apa yang dimaksud dengan nihilisme ? Nihilisme ialah sebuah keadaan yang kosong dan tak bermakna, absurd (nihil) , Nihilisme yang dimaksud bukanlah tanpa makna namun ketika makna yang ada bernilai seperti 0 (Nol) dan itulah yang terjadi dengan Lembaga Kemahasiswaan , ketika apa yang Lembaga Kemahasiswaan pada saat ini hanyalah berupa pengulangan dari era-era sebelumnya ketika apa yang lembaga kemahasiswaan lakukan hanyalah berupa rutinitas , ritual , dan ceremonial belaka layaknya seperti mesin yang disuplai bahan bakar (kader/aktor) untuk menjalankannya kegitan yang sifat nya berulang ulang ,  itulah pengulangan –pengulangan yang terus-menerus terjadi .Untuk suatu masa Lembaga kemahsiswaan dijalankan oleh kader-kadernya untuk menjalankan suatu kegiatan , ritual , ceremonial dan beberapa rutinitas lainnya namun di masa depan itulah yang kembali berulang , dengan aktor yang mungkin berbeda namun masih dengan rutinitas yang sama seperti sebelumnya . Kebaruan dan kreativitas sama sekali mati dalam ruang tersebut karena dipenjarakan oleh suatu Doktrin dan domain ideologis tertentu yang terus menerus diulang dan dilanggengkan sehingga menjadi budaya lembaga .

Aktor inilah yang menyeret Lembaga Kemahasiswaan dalam nihilisme itu sendiri , sebagai penggerak utama dalam lembaga kemahasiswaan , Mahasiswa justru memenjarakan dirinya sendiri oleh doktrin-doktrin /Ritual yang ada dalam sejarah kelembagaannya misalnya saja Doktrin “sejarah” dan utamanya (Seniorisme) dengan berbagai domain ideologi tertentu sehingga ruang kreativitas manusia sama sekali nihil . Mahasiswa sama sekali terjebak oleh sebuah ruang kehidupan(Lembaga Kemahasiswaan)  yang tak mampu menghidupkannya lagi (mematikan diri nya sendiri), yang ada hanyalah kekosongan dan pengulangan makna sehingga tanpa makna yang baru ,seakan-akan mahasiswa tak punya pilihan lain inilah kondisi ketika masa depan bertemu dengan masa lalu pada suatu titik , yang ada hanyalah pengulangan-pengulangan yang kosong dan tanpa makna atau absurd , Kondisi yang sama sekali mematikan eksistensi mahasiswa sebagai makhluk yang katanya punya kreativitas , punya akal budi , dan melebihi eksistensi hewan karena hewan Cuma bisa mengulang rutinitasnya terus-menerus melalui instingnya . apakah kita ini hewan yang hanya bisa mengulang rutinitas terus menerus ? ataukah kita adalah manusia . Anehnya justru Aktor/Kader inilah yang terus-menerus memperkuat doktrin-doktrin seperti itu sehingga membuat lembaga kemahasiswaan semakin terjebak dalam nihilisme itu sendiri . Lembaga kemahasiswaan seperti mesin yang mati dan layaknya hewan yang terus menerus mengulang rutnitasnya belaka . Lembaga kemahasiswaan seperti sebuah lingkaran setan yang terus-menerus berputar sesuai sumbunya , yang kosong dan tanpa makna (baru).

Wajar saja ketika perubahan yang dilakukan oleh Mahasiswa untuk negara pada saat ini juga hampir dikatakan nihil karena lembaga kemahasiswaan sebagai ujung tombak kelembagaan terjebak oleh doktrin-doktrin yang dibuat oleh Mahasiswa itu sendiri dan doktrin-doktrin ini semakin kuat yang justru membuat wadah berjuang dan belajar itu terkungkung dan terpenjara serta berada dalam nihilisme seharusnya lembaga kemhasiswaan adalah sebuah dunia dimana semua mahasiswa bisa hidup di dalamnya namun kreativitas, solusi , dan kebenaran ternyata masih dipenjarakan oleh sebuah doktrin-doktrin yang dikendalikan oleh suatu “Daya” Tertentu katakanlah yang paling banyak dijumpai adalah Doktrin “Sejarah” . Mahasiswa terjebak oleh doktrin-doktrin hegemonik yang menjadi tradisi bahkan menjadi budaya dalam lembaga kemahasiswan dan  terus-menerus berulang layaknya lingkaran setan tanpa akhir yang akhirnya sesuatu yang terus menerus diulang akan menjadi pengetahuan.

Tulisan ini diawali oleh sebuah tulisan seorang Teoritikus asal Prancis Alain Badiou “Kebenaran pertama-tama adalah sesuatu yang baru” . Alain Badiou (Being & Event (1988)) , ketika pengulangan-pengulangan terus menerus yang terjadi hanyalah nihilisme oleh karena itu aktor perlu untuk mendobrak tradisi, ritual , dan doktrin-doktrin untuk membuat suatu klaim baru atau memproduksi suatu kebenaran . Alain Badiou (2004 : 62) menyebutnya sebagai Event (Peristiwa) ,Carl Schmitt menyebutnya sebagai Exception (Pengecualian) , namun secara umum Muhammad Damm menyebutnya sebagai Interupsi  . Interupsi ini akan memaksa nilai-nilai yang lama untuk dikoreksi kemudian akan membuat patokan-patokan (pemaknaan) yang baru dalam nilai-nilai tersebut  dengan melakukan Transevaluasi yaitu melakukan pembacaan ulang atau mengubah  nilai-nilai atau daya-daya yang bekerja di seputar nilai/daya tersebut .Secara ideal transevaluasi akan mengembalikan substansi dan esensi dari aktor dan lembaga kemahasiswaan secara utuh dan mengahancurkan doktrin-doktrin sejarah dimana dalam Lembaga Kemahasiswaan akan menjadi  sebuah dunia dimana semua manusia bisa hidup didalamnya menjadi wadah belajar dan berjuang secara esensial .

Manusia bukanlah makhluk yang tergeletak begitu saja di dunia ini , Manusia bermukim di dunia dan ada nuansa aktivitas disana , dimana manusia terus-menerus berproses meng”ada” atau menyadari “adanya”  jika kita hanya terus mengulang rutinitas , apa bedanya kita dengan benda mati, mesin,dan hewan ? . Dan seperti itu pulalah kita manusia sebagai aktor yang seharusnya menghidupkan lembaga kemahasiswaan seperti kutipan Serial Animasi Cooking Master Boy bahwa “Tradisi yang terbaik adalah mendobrak tradisi itu sendiri” .

 

AYUB GASALI – FORUM KAJIAN PERTANIAN UNHAS – MAHASISWA PERTANIAN ANGK.2009

Komentar